« April 2008 | Main

Mohon...

Prends.. mohon maaf untuk semua khilaf..

Mohon maaf untuk semua hal yang menyakitkan..

Mohon maaf untuk setiap kata, tingkah laku yang kurang berkenan..

Dari hati aku meminta...

Mohon doa restu.. :)

                            

Cinta Tanpa Syarat

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan dan itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka. Sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak. Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.

" Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibunya. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

Do u still remember...?

Jarum jam menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit.. Dan aku masih di ujung jalan ini... Di jalan menuju ke arah stasiun dengan banyak lampu merah berjajar...

Pfff..... kalau saja aku tidak ditunggu.. mgkn aku tidak akan secemas ini... :p. Bukan cemas tepatnya.. apa ya?? Perasaan ngga enak ajah krn hari ini aku janji untuk menjemput di stasiun Gubeng.. Klo aku yang telat... Namanya bukan jemput dung??? :p

Aku tekan tuts HP-ku untuk mengabarkan bahwa aku akan sedikit terlambat.. Dan dia membalas serta mengabarkan bahwa akan menungguku di sebuah cafe sambil ngopi.

***

Aku berjalan tergesa... Langsung membeli peron.. Kucari nama kafe yang dimaksud... Hmm?? tidak ada satupun kafe dengan nama yang sama seperti yang disebutkan.. Aku mengecek hp-ku membaca sms.. memastikan nama kafenya.. Kafe Aku.. Yup.. memang tidak ada!

Aku tekan no hp-nya dan bertanya.. ternyata dia ada di depan pintu masuk!! Bukan di dalam Stasiun...

aku pun melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk stasiun..

Di dekat sebuah tiang penyangga seseorang duduk di sebelah tas ransel besarnya.. dengan sweater biru bergaris.. dengan jambang dan jenggot yang berjuntai (bahasa yang aneh??). Tak lupa dengan senyum.. Kesan pertamaku melihatnya.. : wajahnya sama seperti fotonya!! :D

Lalu aku pun memberikan senyum.. Katanya.. senyum bisa mencairkan suasana (??) hehe..

Dari balik kacamatanya ia membalas senyumku (atau ia sudah memberikan senyum duluan ya?) :p. Aku pun bertanya dan menyebutkan namanya.. Ia mengangguk.. Aku pun mengulurkan tanganku sambil menyebutkan namaku... Kemudian bersama2 berjalan menuju pintu keluar stasiun...

****

Kututup ujung pena bertinta di tangan kananku... Sejenak kubaca kembali barisan kalimat yang kutulis beberapa saat yang lalu.. Sebuah catatan singkat.. sebuah cerita dengan judul tulisan.. "do u still remember..??"

Menerima dirimu apa adanya...?

"Cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri.."

Sebuah kalimat sederhana yang maknanya besar sekali...

Mampukah kita untuk bener2 menerima seseorang apa adanya dan membiarkan dia untuk menjadi dirinya sendiri apa adanya...?? Itulah cinta... keinginan untuk menerima, memberikan rasa pengertian dan 'maklum' pada orang yang kita cintai.. Tanpa berusaha membuat dia menjadi seperti yang kita inginkan...

Ada sebuah kata bijak yang pernah saya dengar bahwa orang yang menginginkan seseorang untuk berubah menjadi "seperti yang kita inginkan" sebenarnya hanyalah sebuah keinginan untuk menciptakan gambaran diri sendiri pada diri orang lain... :)

benarkah demikian....?